22 September 2009

Ayat-Ayat Cinta

Berikut ini saya tuliskan beberapa ayat-ayat tentang cinta yang saya petik dari Al-Quran

وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَكُمْ وَرَفَعْنَا فَوْقَكُمُ الطُّورَ خُذُواْ مَا آتَيْنَاكُم بِقُوَّةٍ وَاسْمَعُواْ قَالُواْ سَمِعْنَا وَعَصَيْنَا وَأُشْرِبُواْ فِي قُلُوبِهِمُ الْعِجْلَ بِكُفْرِهِمْ قُلْ بِئْسَمَا يَأْمُرُكُمْ بِهِ إِيمَانُكُمْ إِن كُنتُمْ مُّؤْمِنِينَ

Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kamu dan Kami angkat bukit (Thursina) di atasmu (seraya Kami berfirman): "Peganglah teguh-teguh apa yang Kami berikan kepadamu dan dengarkanlah!" Mereka menjawab: "Kami mendengarkan tetapi tidak menta`ati". Dan telah diresapkan ke dalam hati mereka itu (kecintaan menyembah) anak sapi karena kekafirannya. Katakanlah: "Amat jahat perbuatan yang diperintahkan imanmu kepadamu jika betul kamu beriman (kepada Taurat)". (QS.2:93)

وَمِنَ النَّاسِ مَن يَتَّخِذُ مِن دُونِ اللّهِ أَندَاداً يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللّهِ وَالَّذِينَ آمَنُواْ أَشَدُّ حُبّاً لِّلّهِ وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُواْ إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ لِلّهِ جَمِيعاً وَأَنَّ اللّهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ

Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal). (QS.2:165)

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاء وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللّهُ عِندَهُ حُسْنُ الْمَآبِ

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). (QS.3:14)

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS.3:31)

لَن تَنَالُواْ الْبِرَّ حَتَّى تُنفِقُواْ مِمَّا تُحِبُّونَ وَمَا تُنفِقُواْ مِن شَيْءٍ فَإِنَّ اللّهَ بِهِ عَلِيمٌ

Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya. (QS.3:92)


وَلَن تَسْتَطِيعُواْ أَن تَعْدِلُواْ بَيْنَ النِّسَاء وَلَوْ حَرَصْتُمْ فَلاَ تَمِيلُواْ كُلَّ الْمَيْلِ فَتَذَرُوهَا كَالْمُعَلَّقَةِ وَإِن تُصْلِحُواْ وَتَتَّقُواْ فَإِنَّ اللّهَ كَانَ غَفُوراً رَّحِيماً
Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri- isteri (mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. Dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS.4:129)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ مَن يَرْتَدَّ مِنكُمْ عَن دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللّهِ وَلاَ يَخَافُونَ لَوْمَةَ لآئِمٍ ذَلِكَ فَضْلُ اللّهِ يُؤْتِيهِ مَن يَشَاءُ وَاللّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mu'min, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. (QS.5:54)

قُلْ إِن كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَآؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُم مِّنَ اللّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُواْ حَتَّى يَأْتِيَ اللّهُ بِأَمْرِهِ وَاللّهُ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

Katakanlah: "Jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya." Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.
(QS.9:24)

إِذْ قَالُواْ لَيُوسُفُ وَأَخُوهُ أَحَبُّ إِلَى أَبِينَا مِنَّا وَنَحْنُ عُصْبَةٌ إِنَّ أَبَانَا لَفِي ضَلاَلٍ مُّبِينٍ

(Yaitu) ketika mereka berkata: "Sesungguhnya Yusuf dan saudara kandungnya (Bunyamin) lebih dicintai oleh ayah kita daripada kita sendiri, padahal kita (ini) adalah satu golongan (yang kuat). Sesungguhnya ayah kita adalah dalam kekeliruan yang nyata. (QS.12:8)

وَقَالَ نِسْوَةٌ فِي الْمَدِينَةِ امْرَأَةُ الْعَزِيزِ تُرَاوِدُ فَتَاهَا عَن نَّفْسِهِ قَدْ شَغَفَهَا حُبّاً إِنَّا لَنَرَاهَا فِي ضَلاَلٍ مُّبِينٍ

Dan wanita-wanita di kota berkata: "Isteri Al Aziz menggoda bujangnya untuk menundukkan dirinya (kepadanya), sesungguhnya cintanya kepada bujangnya itu adalah sangat mendalam. Sesungguhnya kami memandangnya dalam kesesatan yang nyata." (QS.12:30)

مَن كَفَرَ بِاللّهِ مِن بَعْدِ إيمَانِهِ إِلاَّ مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالإِيمَانِ وَلَـكِن مَّن شَرَحَ بِالْكُفْرِ صَدْراً فَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ مِّنَ اللّهِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ .ذَلِكَ بِأَنَّهُمُ اسْتَحَبُّواْ الْحَيَاةَ الْدُّنْيَا عَلَى الآخِرَةِ وَأَنَّ اللّهَ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ

Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar. 107. Yang demikian itu disebabkan karena sesungguhnya mereka mencintai kehidupan di dunia lebih dari akhirat, dan bahwasanya Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang kafir. (QS.16:106-107)

وَاعْلَمُوا أَنَّ فِيكُمْ رَسُولَ اللَّهِ لَوْ يُطِيعُكُمْ فِي كَثِيرٍ مِّنَ الْأَمْرِ لَعَنِتُّمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ أُوْلَئِكَ هُمُ الرَّاشِدُونَ .فَضْلاً مِّنَ اللَّهِ وَنِعْمَةً وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalangan kamu ada Rasulullah. Kalau ia menuruti (kemauan) kamu dalam beberapa urusan benar-benarlah kamu akan mendapat kesusahan tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus, 008. sebagai karunia dan ni`mat dari Allah. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS.49:7-8)


إِنَّا أَنشَأْنَاهُنَّ إِنشَاء.فَجَعَلْنَاهُنَّ أَبْكَاراً .عُرُباً أَتْرَاباً

Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung,. dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan, . penuh cinta lagi sebaya umurnya, (QS.56:35-37)

وَالَّذِينَ تَبَوَّؤُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِن قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِّمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Dan orang-orang yang telah menempati Kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS.59:9)

كَلَّا بَلْ تُحِبُّونَ الْعَاجِلَةَ

Sekali-kali janganlah demikian. Sebenarnya kamu (hai manusia) mencintai kehidupan dunia, (QS.75:20)

وَتُحِبُّونَ الْمَالَ حُبّاً جَمّاً

dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan. (QS.89:20)

وَإِنَّهُ لِحُبِّ الْخَيْرِ لَشَدِيدٌ

dan sesungguhnya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta. (QS.100:8)

--------------------------------
musthaf

Renungan Alam, Binatang Ciptaan Tuhan

Sakti

Sakti, disak ora mati-mati...! yah kira-kira begitu. Maaf, omong2 tentang sakti, sing yen disak ora mati-mati, aku nduwe ndongeng, diwaca sedelat ya ?

Sak/saku atau kantong baju atau celana adalah sebuah tempat yang sempit dan kadang menyempi hingga menghipit apa yang ada di dalamnya, kadang juga longgar, tergantung posisi, angger akune njagong atawa jongkok ya kebanyakan saku celana menyempit, yen akune ngadeg biasane ya mending ora patia menghimpit. Seperti sebuah kehidupan kita di dunia, kadang kehidupan ini menghimpit kita berupa kesulitan-kesulitan, problem hidup, dsb yang berhubungan dg masalah ekonomi, hubungan antar keluarga, masyarakat, teman sejawat dsb. Kadang juga hidup ini terasa longgar, yg mungkin bisa berupa keluasan hidup secara ekonomi, kehormatan, pangkat, derajat sosial, keharmonisan hubungan dg keluarga, teman, masyarakat dsb. Nah orang yan sakti adalah orang yag tidak mati imannya, baik dalam kesempitan maupun keluasan hidup yang selalu silih berganti dialami manusia. Silih bergantinya keluasan dan kesempitan hidup ini, kata orang arief, sengaja Allah ciptakan untuk orang-orang yang beriman. Allah sengaja datangkan kesempitan hidup kpd orang yg beriman agar ia tidak larut dan bergelimang dalam keluasan dan kesenangan yg dapat menyebabkan matinya iman. Begitu juga kadang Allah sengaja meluaskan dengan kesenangan hidup orang mukmin agar ia tidak larut dan terpuruk dalam kesulitan yg dapat menyebabkan matinya iman. Lain dengan orang yg tidak beriman, baik dalam keluasan apalagi kesempitan, tetap keimanan mereka mati. Berarti mereka yg tak beriman gak sakti, hehe...

إِنَّ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ زَيَّنَّا لَهُمْ أَعْمَالَهُمْ فَهُمْ يَعْمَهُونَ . أُوْلَئِكَ الَّذِينَ لَهُمْ سُوءُ الْعَذَابِ وَهُمْ فِي الْآخِرَةِ هُمُ الْأَخْسَرُونَ
004. Sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada negeri akhirat, Kami jadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka, maka mereka bergelimang (dalam kesesatan).
005. Mereka itulah orang-orang yang mendapat (di dunia) azab yang buruk dan mereka di akhirat adalah orang-orang yang paling merugi. (QS.27,An-Naml:4-5)

Saiki nyong pan cerita tentang genggong atawa jangkrik dan semut. pengen maca maning apa wisan? Bokan pan macaya ya monggo... hehe...
(maaf bukan juru dongeng yah...)

Kalau kita perhatikan kehidupan genggong atawa jangkrik, sepintas kelihatan habitatnya tidak jauh berbeda dg semut. Atau mungkin sama habitat dari dua jenis hewan ini, karena masih tergolong satu bangsa yaitu serangga.( jadi inget pelajarane pak Widarjo ato bu Sri). Tapi kalau kita perhatikan cara hidup dua jenis hewan ini, sangat jauh berbeda. Semut lebih cenderung memilih cara hidup berkoloni, membentuk suatu komunitas masyarakat (semut) yang menonjol dalam cara hidup yang selalu bergotong-royong, bantu-membantu, saling menghargai dan menghormati, hingga jika diantara semut yg satu dengan yg lain bertemu, mereka selalu saling menyapa dan bersalaman. Mungkin cara hidup seperti inilah yg tepat mereka pilih mengingat bentuk tubuhnya yang kecil dan lemah.
???
Sampai saya berhenti menulis kata "bentuk tubuhnya yang kecil dan lemah" di atas, saya sempat berpikir, : "Marah nggak yah seandainya semut-semut itu mendengar perkataan saya, bahwa mereka bertubuh kecil dan lemah?" Tapi saya sempat berpikir juga, kemungkinan semut-semut itu tidak akan marah, tapi mungkin seandainya mereka bisa ngomong, dengan sopan mereka akan mengoreksi perkataan saya yang menurut mereka, bahwa apa yang baru saya katakan tadi salah. Mungkin mereka akan berkata: "Kami memilih cara hidup seperti yang anda lihat ini bukan karena tubuh kami yang kecil dan lemah, maaf kami bukan bermaksud mengelak dari kenyataan tubuh kami yang kecil dan lemah ini yah? tapi tidak lain karena kami mendapat perintah dan petunjuk serta bimbingan dari Allah SWT, Tuhan kami Yang Agung, agar kami menunjukan kepada seluruh makhluk-makhluk-Nya, terutama manusia agar mereka dapat mengambil pelajaran dari cara hidup kami. Oleh karena itu kami pun selalu patuh dan taat kepada perintah Tuhan kami yang dibebankan kepada bangsa kami dan kami tidak berani melanggar perintah-Nya serta sedikit pun kami tidak ingin bermaksiat kepada-Nya karena takut akan siksa-Nya."
Atau mungkin mereka akan menyampaikan perkataa lain kepada saya yang jauh lebih baik dari itu, yang saya sendiri tidak bisa memperkirakan-nya.

Bandingkan dengan cara hidup jangkrik genggong. Cara hidup mereka tidak pernah membentuk suatu komunitas, tapi lebih cenderung bersembunyi dan menyendiri dalam sebuah lubang tanah, terpisah dengan lubang teman jangkrik lain kecuali dengan pasangan hidupnya, ( itu pun jika sudah punya pasangan hidup, kalo belum ya menyendiri terus kali?). Di kala malam biasanya jangkrik lebih suka berdesir mengeluarkan suara yang timbul dari gesekan yang diakibatkan getaran dua sayapnya. Tapi jika misalnya kita membuka bongkahan tanah lalu didapati kerumunan jangkrik dalam jumlah yang banyak, dapat dipastikan mereka masih berusia muda/anak-anak dari satu induk. Setelah dewasa mereka pun akan memilih cara hidup seperti umumnya jangkrik dewasa.

Ada kemungkinan jaman dulu semut dan jangkrik pernah berkomunikasi, berdialog dan saling tukar pendapat karena mereka, semut dan jangkrik, masih dalam satu keluarga yaitu keluarga serangga. Seperti kita bisa lihat percakapan antar semut yang ada dalam Al-Qur'an.

حَتَّى إِذَا أَتَوْا عَلَى وَادِي النَّمْلِ قَالَتْ نَمْلَةٌ يَا أَيُّهَا النَّمْلُ ادْخُلُوا مَسَاكِنَكُمْ لَا يَحْطِمَنَّكُمْ سُلَيْمَانُ وَجُنُودُهُ وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ . فَتَبَسَّمَ ضَاحِكاً مِّن قَوْلِهَا وَقَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحاً تَرْضَاهُ وَأَدْخِلْنِي بِرَحْمَتِكَ فِي عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ

"Hingga apabila mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut: Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari";
019. maka dia tersenyum dengan tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia berdo`a: "Ya Tuhanku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri ni`mat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh". (QS.27, An-Naml:18-19)

Seandainya semut dan jangkrik saling bercakap, nyong lebih membayangkan pada percakapan sbb:
Semut : "Wahai jangkrik, kamu kan masih satu keluarga serangga dengan kami, kenapa kamu memilih cara hidup yang cenderung bersembunyi, menyendiri dan tidak berusaha membentuk komunitas jangkrik, seperti kami membentuk komunitas semut? Bukankah cara hidup seperti kami ini lebih baik?"

Jangkrik : "Cara hidup kamu itu lebih baik buatmu, tapi mungkin tidak buat kami. Bangsa kami sudah mempunyai pilihan cara hidup yang lebih baik buat kami dan mungkin tidak buat bangsa kamu."

Semut : "Coba terangkan pada kami agar kami dapat memahami kebaikan cara hidup bangsamu dan kami bisa mengabarkan kepada bangsa kami, agar bangsa kami tidak merasa memiliki cara hidup yang paling baik dari bangsa lain, hingga kami terjerumus ke dalam sikap ujub yang dapat melempar kami ke neraka."

Jangkrik : "Kami, bangsa jangkrik genggog, memiliki kepala dan tubuh yang lebih besar dari bangsa semut, sehingga kami ini khawatir akan ego dan nafsu yang besar pula, yang dapat mempengaruhi keburukan sikap kami jika kami menjalami hidup berkomunitas seperti bangsa semut atau bangsa manusia. Kami sering mendengar permusuhan diantara bangsa manusia satu sama lain, saling baku hantam dan menumpahkan darah yang berakibat terjadinya kerusakan di muka bumi. Hal itu dikarenakan mereka, bangsa manusia, tidak bisa mengendalikan ego dan nafsunya, padahal mereka telah dilengkapi dengan akal serta diturunkan oleh Allah SWT melalui Rasul-Nya yang dipilih diantara bangsa mereka sendiri, sebuah kitab Al-Qur'an yang tidak ada keraguan padanya dan di dalamnya terdapat petunjuk hidup bagi mereka dalam hubungannya dengan sesama manusia maupun dengan alam sekitar dan hubungan mereka dengan Allah agar mereka senantiasa beriman dan bertakwa kepada-Nya. Tapi kebanyakan dari bangsa manusia berpaling dari petunjuk Allah. Kami bangsa jangkrik tidak mau ambil resiko keburukan yang akan keluar dari dalam diri kami sendiri akibat dari pengaruh ego dan nafsu kami, seperti yang dialami bangsa manusia. Kami pun menyadari akan potensi yang kami miliki di mana di kalangan bangsa kami hanya memiliki nafsu dan ego yang muncul bersama insting, dan tidak dilengkapi dengan akal untuk memahami seperti manusia. Oleh karena itu kami bangsa jangkrik genggong, memilih cara hidup yang paling sederhana sekira kami bisa bertahan hidup dan dapat melangsungkan keturunan kami serta senantiasa bertasbih, bersyukur, memuji akan kebesaran dan keagungan Allah SWT. dan menjauhkan diri dari perilaku yang dapat menimbulkan terpancingnya ego dan nasfu yang dapat menjerumuskan ke dalam lembah keburukan. Bangsa kami pun mempunyai tekad untuk tidak memiliki sediiktpun keinginan bermasiat kepada Allah. Lihat saja, bangsa kami tidak membentuk komunitas yang memungkinkan terjadinya pergaulan dan komunikasi di antara kami. Karena untuk menghindari hal-hal buruk yang biasa timbul di sana. Kami hidup menyendiri, menyepi dalam sebuah gua bersama istri. Di kala malam kami selalu bertasbih dengan memuji-Nya dan berdzikir kepada Allah SWT hingga menjelang pagi. Jika kami dikaruniai anak, maka kami kumpulkan mereka untuk kami didik dan kami ajari mereka mengenal hidup agar dapat mengabdi sepenuhnya hanya kepada Allah dan menjauhi segala apa yang dilarang oleh-Nya. Dan kalau anak-anak kami telah dewasa dan dianggap mampu, maka kami perintahkan agar mereka menjalani hidup seperti kami. Di atara bangsa kami kadang ada yang memilih hidup untuk tidak beristri. Tapi ia meneguhkan dirinya hanya beribadah saja kepada Allah SWT dan meninggalkan unsur keduniaan menurut versi bangsa kami, sampai kepala mereka berubah warna menjadi putih. Merekalah yang terkenal dengan mitos yang berkembang di kalangan anak-anak bangsa manusia dengan menamakan jangkrik genggong wak kaji. Begitu kira-kira sedikit yang dapat kami sampaikan kepada kamu wahai semut, semoga kamu bisa memahami akan kebaikan cara hidup kami."

Demikian hayalan dari orang yang suka ngayal, hehehe.......



تُسَبِّحُ لَهُ السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ وَالأَرْضُ وَمَن فِيهِنَّ وَإِن مِّن شَيْءٍ إِلاَّ يُسَبِّحُ بِحَمْدَهِ وَلَـكِن لاَّ تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ إِنَّهُ كَانَ حَلِيماً غَفُوراً
Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun. (QS.17, Al-Israa':44)

------------------------------
musthaf

Tradisi Mudik Lebaran, silaturrahmi, kasih sayang dan cinta. "Bukan Pamer"

Tradisi Mudik Lebaran

Mudik berasal dari kata "udik" yang artinya kampung. Jadi secara sederhana, kata "mudik" bisa diartikan sebagai "pulang ke kampung asal, di mana kita dilahirkan dan sebagian besar keluarga bertempat tinggal".

Tradisi "mudik", yang umumnya dilakukan orang Indonesia, mungkin telah berlangsung sejak lama. Hal ini disebabkan karena budaya orang-orang nusantara yang suka hidup berpetualang, mengembara dan merantau, baik bertujuan mencari penghidupan materi kekayaan, kejayaan, maupun ilmu pengetahuan. Saya pikir budaya ini pun dimiliki oleh orang-orang di belahan bumi mana pun.

Ada tiga landasan kejiwaan yang cukup kuat dijadikan alasan untuk "tradisi mudik lebaran".

Pertama
Di kampung asal kita lahir, di mana kita menghabiskan masa kanak-kanaknya serta di sana pula tinggal sanak saudara, handai taulan, tetangga dan lingkungan yang akrab dengan kita sebelum kita pergi ke tempat lain, adalah tempat yang sangat berkesan, banyak membekaskan kenangan dan tidak jarang menimbulkan kerinduan. Hingga suatu saat setelah berada di tempat lain kita pun ingin kembali. Ini adalah suatu fitrah manusia dari zaman ke zaman, dari dahulu dan akan berlangsung sampai kapan pun.

Kedua
Menyambung tali kasih sayang kepada sanak saudara dan kerabat, yang kita kenal dengan istilah "silaturrahmi", dan menghangatkan kembali hubungan persahabatan dengan teman yang telah lama berpisah, yang kita kenal dengan istilah "ukhuwah".

Ketiga
Momen "Idul Fitri" membawa jiwa kita pada terbukanya fitrah manusia setelah sebulan menahan lapar, haus dan nafsu saithoniah dengan berpuasa, sehingga tumbuh kesadaran akan rasa kasih sayang dan saling cinta kepada sesamanya, terlebih kepada keluarga.

Setidaknya tiga hal inilah yang mendorong seseorang melakukan mudik lebaran, untuk segera bertemu dan mencurahkan rasa rindu, kasih sayang dan cintanya kepada orang-orang yang dicintai, yang akhirnya menjadi sebuah tradisi tiap tahunnya. Dorongan seperti ini, dalam diri seseorang kadang muncul begitu kuat hingga tidak bisa menahan kecuali harus segera memenuhinya, apa pun keadaan dan resikonya. Kuatnya dorongan ini juga sangat dipengaruhi oleh empat faktor kejiwaan yang melandasi cinta dan kasih sayang seseorang, yang terkenal dengan istilah psikologi kasih sayang. Empat faktor itu adalah: penuh perhatian, keinginan untuk memberi, memaklumi kekurangan dan memaafkan kesalahan. Sebenarnya, sifat kasih sayang ini adalah sifat dasar setiap manusia semenjak diciptakan oleh Allah SWT. di mana sebelum manusia ini di lahirkan di dunia, ia tersimpan dalam suatu tempat yang kokoh dan aman dalam perut seorang wanita yang dinamakan "rahim". Rahim ini adalah salah satu nama dari sembilan puluh sembilan Asma Al-Husna atau nama-nama Allah yang indah, yang berarti bahwa Allah mempunyai sifat kasih sayang. Selama kurang lebih sembilan bulan sepuluh hari ia tersimpan di sana, dan selama itu pula ia hanya dikenalkan dengan sifat rahim (kasih sayang), sesuai dengan nama tempat ia tersimpan. Hingga pertama manusia lahir ke dunia ia hanya membawa sifat kasih sayang yang telah terbentuk dalam jiwanya selama dalam kandungan (rahim) ibunya. Tatkala manusia dilahirkan di dunia, ia disibukkan oleh urusan dunia yang begitu kompleks, ada kemungkinan sifat ini akan terdesak bahkan tertimbun oleh sifat-sifat lain seperi sifat rakus, iri, dengki dan sifat-sifat saithoniah yang lain. Maka setelah ramadhan, sebulan jiwa dibersihkan dari sifat-sifat saithoniah, manusia akan kembali kepada fitrahnya, yaitu sifat kasih sayang, yang sebenarnya telah menjadi sifat dasar aslinya. Inilah yang setiap tahun kita saksikan bersama berbondong-bondongnya jutaan manusia Indonesia yang melakukan "pulang mudik" untuk bersilaturrahmi atau menjalin tali kasih sayang kepada seluruh keluarga dan kerabat serta menghangatkan kembali ukhuwah dengan sahabatnya di kampung halaman. Dalam kebersihan jiwa mereka dari unsur sifat saithoniah, setelah shaum ramadhan, jiwa-jiwa mereka dipenuhi rasa kasih sayang yang mendesak keinginannya untuk segera dicurahkan kepada keluarga, kerabat dan orang-orang yang dikasihi dan dicintai, seakan kehausan yang segera membutuhkan tetesan air yang sejuk dan menyegarkan, atau seperti pemuda yang dilanda kerinduan kepada kekasih yang ia cinta, ingin segera melepas kerinduannya berjumpa dengan kekasih, apa pun risikonya. Dorongan (baca: kebutuhan) pulang mudik untuk tujuan "bersilaturrahmi" seperti ini melanda setiap muslim tanpa kecuali. Meski tidak sedikit oknum yang mempunyai tujuan untuk "pamer" kekayaan di kampung atas keberhasilannya selama di perantauan. Tidak saja bagi mereka yang kaya, yang punya mobil, punya motor maupun yang hanya punya ongkos naik kendaraan umum saja. Tapi bagi mereka yang tidak punya cukup ongkos pun sebenarnya punya keinginan pulang mudik, bersilaturrahmi kepada sanak famili dan mempererat ukhuwah dengan para sahabat.

Bagi mereka yang pulang mudik dan dalam hatinya ada niat ingin pamer atau ingin menunjukkan kekayaan atau keberhasilannya selama di rantau, saya pikir niat seperti ini tidak seratus persen memenuhi hatinya. Dalam momen lebaran seperti ini meski hatinya tidak seratus persen dipenuhi niat silaturrahmi, yang jelas setidaknya niat bersilaturrahmi sangatlah dominan. Kecuali bagi mereka yang mungkin selama bulan ramadhan tidak pernah berpuasa dan selama hidunya tidak pernah shalat serta jauh dari agama, untuk orang yang model seperti ini saya tidak bisa menjamin. Bisa jadi orang seperti ini hatinya kosong dari niat silaturahmi, tapi hatinya dipenuhi oleh niat pamer atau riya, ingin menunjukkan kesuksesannya kepada keluarga, kerabat, tetangga dan sahabat-sahabatnya. Hal-hal seperti ini sudah menjadi lumrah dalam setiap momen ibadah. Seperti datangnya orang-orang ke masjid pada hari jumat misalnya, ada saja yang datangnya sengaja mau mencuri sandal, bukan niat shalat jumat. Hati orang yang seperti ini jauh dari makna mudik lebaran. Karena mudik lebaran identik dengan makna silaturrahmi.

Inilah yang terjadi dalam masyarakat Indonesia di penghujunng ramadhan menjelang Idul Fitri. Pemerintah tinggal menyikapi searif mungkin. Hargai niat silaturrahmi di musim lebaran mereka yang seakan sudah menjadi kebutuhan batin yang tidak boleh tidak. Meski gelombang pulang mudik ini dapat merepotkan dirjen perhubungan darat, laut maupun udara.

Agaknya tradisi "pulang mudik lebaran" seperti ini telah menjadi tradisi unik yang tidak dimiliki masyarakat dunia manapun. Bisa jadi tradisi ini dijadikan "kekayaan budaya bangsa Indonesia" yang perlu dilestarikan dan kita banggakan serta perlu juga dilindungi oleh negara, bila perlu didaftarkan pada lembaga kebudayaan dunia agar tidak diakui oleh negara lain, hehehe....

---------------------------
mustafa

Merenungi Alam Ciptaan Tuhan

Melihat Alam

Begitu terang alam semesta ini. Langit dan bumi serta segala yang ada di antaranya tampak begitu indah dan mempesona. Keindahan itu tak lain karena sebab nur Allah yang selalu menerangi. Begitu nikmat dirasa apa yang keluar dari padanya. Kenikmatan itu tak lain karena sebab rahmat Allah yang selalu menyertainya. Haruskah kita terpedaya oleh keindahan, kedudukan, kemegahan, kekuasaan, keberhasilan dan kemewahan? Atau kita diputus-asakan oleh kesulitan, kemiskinan, kegagalan dan keterbatasan? Alam benda-benda yang tampak oleh mata, dan alam pikiran yang selalu kita rasa, memberikan pemahaman bagi kita akan hakikat kejadian oleh sang Pencipta, bagi mereka yang tidak menghentikan perhatiannya di sana. Alam semesta ini, sebelum dan sesudah keberadaannya, mengisyaratkan kehadiran sang Pencipta, Allah SWT. Jika kita tidak dapat melihat kehadiran-Nya di sana, maka jelaslah bahwa kita telah jauh dari cahaya dan ma'rifat kepada-Nya, dikarenakan hati kita sebagai pelita telah dihalangi oleh pengaruh pancaran menyilaukan yang keluar dari alam yang ada.

Allah berfirman:

قُلِ انظُرُواْ مَاذَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَمَا تُغْنِي الآيَاتُ وَالنُّذُرُ عَن قَوْمٍ لاَّ يُؤْمِنُونَ
Katakanlah: "Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi. Tidaklah bermanfa`at tanda kekuasaan Allah dan rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman". (QS.10, Yunus:101)

Memandang bahwa Allah-lah Dzat Yang Maha Kuasa memberi manfaat pada apa yang kita lihat di alam ini, akan menarik kita akan kedekatan kepada-Nya, bersyukur atas segala nikmat dan anugerah yang telah diberikan oleh-Nya, serta mendorong kita menjalani segala apa yang telah diwajibkan-Nya kepada kita. Kedekatan kita kepada-Nya akan mengahantarkan kita pada kesempurnaan pemahaman atas Allah SWT sebagai Tuhan yang telah menciptakan, mengurusi dan menetapkan atas makhluk ciptaan-Nya, hingga kita akan sibuk memikirkan kekuasaan-Nya, berdzikir mengingat kesempurnaan-Nya, serta menjalankan hak-hakNya, sampai kita lupa pada mengikuti apa yang menjadi kesenangan nafsu kita.

Dalam hadits Qudsi, Rasulullah SAW bersabda:
قَلَ اللهُ تَعَالَى: عَبْدِي, اَنَاعِنْدَضَنَّكَ بِىْ وَأَنَامَعَكَ اِذَاذَكَرْتَنِىْ
Allah Ta'ala berfirman: "Wahai hamba-Ku, Aku menurut apa yang menjadi prasangkamu kepada-Ku dan Aku bersamamu ketika engkau ingat kepada-Ku."

Semoga kita selamat dari bahaya nafsu yang selalu menjeruskan kita ke lembah nista, bencana jilatan api neraka. Amiin.