22 September 2009

Renungan Alam, Binatang Ciptaan Tuhan

Sakti

Sakti, disak ora mati-mati...! yah kira-kira begitu. Maaf, omong2 tentang sakti, sing yen disak ora mati-mati, aku nduwe ndongeng, diwaca sedelat ya ?

Sak/saku atau kantong baju atau celana adalah sebuah tempat yang sempit dan kadang menyempi hingga menghipit apa yang ada di dalamnya, kadang juga longgar, tergantung posisi, angger akune njagong atawa jongkok ya kebanyakan saku celana menyempit, yen akune ngadeg biasane ya mending ora patia menghimpit. Seperti sebuah kehidupan kita di dunia, kadang kehidupan ini menghimpit kita berupa kesulitan-kesulitan, problem hidup, dsb yang berhubungan dg masalah ekonomi, hubungan antar keluarga, masyarakat, teman sejawat dsb. Kadang juga hidup ini terasa longgar, yg mungkin bisa berupa keluasan hidup secara ekonomi, kehormatan, pangkat, derajat sosial, keharmonisan hubungan dg keluarga, teman, masyarakat dsb. Nah orang yan sakti adalah orang yag tidak mati imannya, baik dalam kesempitan maupun keluasan hidup yang selalu silih berganti dialami manusia. Silih bergantinya keluasan dan kesempitan hidup ini, kata orang arief, sengaja Allah ciptakan untuk orang-orang yang beriman. Allah sengaja datangkan kesempitan hidup kpd orang yg beriman agar ia tidak larut dan bergelimang dalam keluasan dan kesenangan yg dapat menyebabkan matinya iman. Begitu juga kadang Allah sengaja meluaskan dengan kesenangan hidup orang mukmin agar ia tidak larut dan terpuruk dalam kesulitan yg dapat menyebabkan matinya iman. Lain dengan orang yg tidak beriman, baik dalam keluasan apalagi kesempitan, tetap keimanan mereka mati. Berarti mereka yg tak beriman gak sakti, hehe...

إِنَّ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ زَيَّنَّا لَهُمْ أَعْمَالَهُمْ فَهُمْ يَعْمَهُونَ . أُوْلَئِكَ الَّذِينَ لَهُمْ سُوءُ الْعَذَابِ وَهُمْ فِي الْآخِرَةِ هُمُ الْأَخْسَرُونَ
004. Sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada negeri akhirat, Kami jadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka, maka mereka bergelimang (dalam kesesatan).
005. Mereka itulah orang-orang yang mendapat (di dunia) azab yang buruk dan mereka di akhirat adalah orang-orang yang paling merugi. (QS.27,An-Naml:4-5)

Saiki nyong pan cerita tentang genggong atawa jangkrik dan semut. pengen maca maning apa wisan? Bokan pan macaya ya monggo... hehe...
(maaf bukan juru dongeng yah...)

Kalau kita perhatikan kehidupan genggong atawa jangkrik, sepintas kelihatan habitatnya tidak jauh berbeda dg semut. Atau mungkin sama habitat dari dua jenis hewan ini, karena masih tergolong satu bangsa yaitu serangga.( jadi inget pelajarane pak Widarjo ato bu Sri). Tapi kalau kita perhatikan cara hidup dua jenis hewan ini, sangat jauh berbeda. Semut lebih cenderung memilih cara hidup berkoloni, membentuk suatu komunitas masyarakat (semut) yang menonjol dalam cara hidup yang selalu bergotong-royong, bantu-membantu, saling menghargai dan menghormati, hingga jika diantara semut yg satu dengan yg lain bertemu, mereka selalu saling menyapa dan bersalaman. Mungkin cara hidup seperti inilah yg tepat mereka pilih mengingat bentuk tubuhnya yang kecil dan lemah.
???
Sampai saya berhenti menulis kata "bentuk tubuhnya yang kecil dan lemah" di atas, saya sempat berpikir, : "Marah nggak yah seandainya semut-semut itu mendengar perkataan saya, bahwa mereka bertubuh kecil dan lemah?" Tapi saya sempat berpikir juga, kemungkinan semut-semut itu tidak akan marah, tapi mungkin seandainya mereka bisa ngomong, dengan sopan mereka akan mengoreksi perkataan saya yang menurut mereka, bahwa apa yang baru saya katakan tadi salah. Mungkin mereka akan berkata: "Kami memilih cara hidup seperti yang anda lihat ini bukan karena tubuh kami yang kecil dan lemah, maaf kami bukan bermaksud mengelak dari kenyataan tubuh kami yang kecil dan lemah ini yah? tapi tidak lain karena kami mendapat perintah dan petunjuk serta bimbingan dari Allah SWT, Tuhan kami Yang Agung, agar kami menunjukan kepada seluruh makhluk-makhluk-Nya, terutama manusia agar mereka dapat mengambil pelajaran dari cara hidup kami. Oleh karena itu kami pun selalu patuh dan taat kepada perintah Tuhan kami yang dibebankan kepada bangsa kami dan kami tidak berani melanggar perintah-Nya serta sedikit pun kami tidak ingin bermaksiat kepada-Nya karena takut akan siksa-Nya."
Atau mungkin mereka akan menyampaikan perkataa lain kepada saya yang jauh lebih baik dari itu, yang saya sendiri tidak bisa memperkirakan-nya.

Bandingkan dengan cara hidup jangkrik genggong. Cara hidup mereka tidak pernah membentuk suatu komunitas, tapi lebih cenderung bersembunyi dan menyendiri dalam sebuah lubang tanah, terpisah dengan lubang teman jangkrik lain kecuali dengan pasangan hidupnya, ( itu pun jika sudah punya pasangan hidup, kalo belum ya menyendiri terus kali?). Di kala malam biasanya jangkrik lebih suka berdesir mengeluarkan suara yang timbul dari gesekan yang diakibatkan getaran dua sayapnya. Tapi jika misalnya kita membuka bongkahan tanah lalu didapati kerumunan jangkrik dalam jumlah yang banyak, dapat dipastikan mereka masih berusia muda/anak-anak dari satu induk. Setelah dewasa mereka pun akan memilih cara hidup seperti umumnya jangkrik dewasa.

Ada kemungkinan jaman dulu semut dan jangkrik pernah berkomunikasi, berdialog dan saling tukar pendapat karena mereka, semut dan jangkrik, masih dalam satu keluarga yaitu keluarga serangga. Seperti kita bisa lihat percakapan antar semut yang ada dalam Al-Qur'an.

حَتَّى إِذَا أَتَوْا عَلَى وَادِي النَّمْلِ قَالَتْ نَمْلَةٌ يَا أَيُّهَا النَّمْلُ ادْخُلُوا مَسَاكِنَكُمْ لَا يَحْطِمَنَّكُمْ سُلَيْمَانُ وَجُنُودُهُ وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ . فَتَبَسَّمَ ضَاحِكاً مِّن قَوْلِهَا وَقَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحاً تَرْضَاهُ وَأَدْخِلْنِي بِرَحْمَتِكَ فِي عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ

"Hingga apabila mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut: Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari";
019. maka dia tersenyum dengan tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia berdo`a: "Ya Tuhanku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri ni`mat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh". (QS.27, An-Naml:18-19)

Seandainya semut dan jangkrik saling bercakap, nyong lebih membayangkan pada percakapan sbb:
Semut : "Wahai jangkrik, kamu kan masih satu keluarga serangga dengan kami, kenapa kamu memilih cara hidup yang cenderung bersembunyi, menyendiri dan tidak berusaha membentuk komunitas jangkrik, seperti kami membentuk komunitas semut? Bukankah cara hidup seperti kami ini lebih baik?"

Jangkrik : "Cara hidup kamu itu lebih baik buatmu, tapi mungkin tidak buat kami. Bangsa kami sudah mempunyai pilihan cara hidup yang lebih baik buat kami dan mungkin tidak buat bangsa kamu."

Semut : "Coba terangkan pada kami agar kami dapat memahami kebaikan cara hidup bangsamu dan kami bisa mengabarkan kepada bangsa kami, agar bangsa kami tidak merasa memiliki cara hidup yang paling baik dari bangsa lain, hingga kami terjerumus ke dalam sikap ujub yang dapat melempar kami ke neraka."

Jangkrik : "Kami, bangsa jangkrik genggog, memiliki kepala dan tubuh yang lebih besar dari bangsa semut, sehingga kami ini khawatir akan ego dan nafsu yang besar pula, yang dapat mempengaruhi keburukan sikap kami jika kami menjalami hidup berkomunitas seperti bangsa semut atau bangsa manusia. Kami sering mendengar permusuhan diantara bangsa manusia satu sama lain, saling baku hantam dan menumpahkan darah yang berakibat terjadinya kerusakan di muka bumi. Hal itu dikarenakan mereka, bangsa manusia, tidak bisa mengendalikan ego dan nafsunya, padahal mereka telah dilengkapi dengan akal serta diturunkan oleh Allah SWT melalui Rasul-Nya yang dipilih diantara bangsa mereka sendiri, sebuah kitab Al-Qur'an yang tidak ada keraguan padanya dan di dalamnya terdapat petunjuk hidup bagi mereka dalam hubungannya dengan sesama manusia maupun dengan alam sekitar dan hubungan mereka dengan Allah agar mereka senantiasa beriman dan bertakwa kepada-Nya. Tapi kebanyakan dari bangsa manusia berpaling dari petunjuk Allah. Kami bangsa jangkrik tidak mau ambil resiko keburukan yang akan keluar dari dalam diri kami sendiri akibat dari pengaruh ego dan nafsu kami, seperti yang dialami bangsa manusia. Kami pun menyadari akan potensi yang kami miliki di mana di kalangan bangsa kami hanya memiliki nafsu dan ego yang muncul bersama insting, dan tidak dilengkapi dengan akal untuk memahami seperti manusia. Oleh karena itu kami bangsa jangkrik genggong, memilih cara hidup yang paling sederhana sekira kami bisa bertahan hidup dan dapat melangsungkan keturunan kami serta senantiasa bertasbih, bersyukur, memuji akan kebesaran dan keagungan Allah SWT. dan menjauhkan diri dari perilaku yang dapat menimbulkan terpancingnya ego dan nasfu yang dapat menjerumuskan ke dalam lembah keburukan. Bangsa kami pun mempunyai tekad untuk tidak memiliki sediiktpun keinginan bermasiat kepada Allah. Lihat saja, bangsa kami tidak membentuk komunitas yang memungkinkan terjadinya pergaulan dan komunikasi di antara kami. Karena untuk menghindari hal-hal buruk yang biasa timbul di sana. Kami hidup menyendiri, menyepi dalam sebuah gua bersama istri. Di kala malam kami selalu bertasbih dengan memuji-Nya dan berdzikir kepada Allah SWT hingga menjelang pagi. Jika kami dikaruniai anak, maka kami kumpulkan mereka untuk kami didik dan kami ajari mereka mengenal hidup agar dapat mengabdi sepenuhnya hanya kepada Allah dan menjauhi segala apa yang dilarang oleh-Nya. Dan kalau anak-anak kami telah dewasa dan dianggap mampu, maka kami perintahkan agar mereka menjalani hidup seperti kami. Di atara bangsa kami kadang ada yang memilih hidup untuk tidak beristri. Tapi ia meneguhkan dirinya hanya beribadah saja kepada Allah SWT dan meninggalkan unsur keduniaan menurut versi bangsa kami, sampai kepala mereka berubah warna menjadi putih. Merekalah yang terkenal dengan mitos yang berkembang di kalangan anak-anak bangsa manusia dengan menamakan jangkrik genggong wak kaji. Begitu kira-kira sedikit yang dapat kami sampaikan kepada kamu wahai semut, semoga kamu bisa memahami akan kebaikan cara hidup kami."

Demikian hayalan dari orang yang suka ngayal, hehehe.......



تُسَبِّحُ لَهُ السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ وَالأَرْضُ وَمَن فِيهِنَّ وَإِن مِّن شَيْءٍ إِلاَّ يُسَبِّحُ بِحَمْدَهِ وَلَـكِن لاَّ تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ إِنَّهُ كَانَ حَلِيماً غَفُوراً
Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun. (QS.17, Al-Israa':44)

------------------------------
musthaf

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar